Kisah Heroik di Balik Jahitan Bendera Pusaka
Simbolisme dan Pengorbanan
Ibu Fatmawati menjahit Bendera Pusaka dalam keadaan penuh keterbatasan. Pada tahun 1944, kain berkualitas sangat sulit didapat karena pengawasan ketat Jepang. Kain putih yang digunakan kabarnya adalah kain seprai bersih, sementara kain merah dibeli dari seorang penjual soto melalui bantuan seorang pemuda bernama Lukas Kastaryo. Fatmawati menjahitnya menggunakan mesin jahit tangan (bukan mesin kaki) sambil berurai air mata, karena saat itu beliau sedang hamil tua (Guntur Soekarnoputra) dan merasa khawatir akan masa depan bayi serta bangsa Indonesia yang sedang berada di ujung tanduk antara merdeka atau tetap dijajah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar